Archive for May, 2008

Ilusi IV

Saturday, May 3rd, 2008

Entah bagaimana aku harus meluruskan masalah itu. Aku berusaha  meyakinkan diri: ‘Life is generous.. It will treat you kind..‘. Ia akan mengerti. Ia pasti mengerti, dan yang terpenting, ia peduli, bahkan lebih daripada yang kupikir.

Akhirnya ini bukan lagi tentang dia, atau tentang apa yang harus kukatakan padanya, walau aku tetap berharap aku bisa bicara lebih banyak - hal yang tidak mungkin kulakukan waktu itu.

Aku tidak pernah bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk memulainya, selain bahwa yang kuhitung bukan sekedar detik-detik yang merayapi fajar hari-hariku atau jumlah digit pendapatan bulanan yang terpampang di layar ATM. Sesuatu terhilang, lebih besar daripada yang kelihatan dan hal yang paling menyiksa adalah aku tidak dapat mengatakan apa-apa pada siapapun, betapapun ingin.

Aku sadar aku tidak mungkin menukar kesempatan dengan hutang-hutang tak terbayar yang hanya dapat kukembalikan ke tingkap-tingkap langit. Bahwa aku ternyata tidak sebaik yang disangka orang atau sebaliknya tidak seburuk yang mereka pikir, itu bukan lagi sesuatu yang patut kusesali. Sulit untuk mengatakan aku sama sekali tidak peduli, bahkan mungkin aku terlalu peduli, lebih dari yang seharusnya. Bagaimanapun, itu harga sebuah konsekuensi perjalanan hidup. Aku hanya berusaha mengingatkan diriku untuk sebisa mungkin bersikap adil, sebagaimana hidup itu adil, walau aku tahu usahaku tidak akan pernah sebanding dengan apa yang ditawarkan hidup dengan keadilannya yang sempurna.

Kesempatan itu terlalu berharga untuk ditukar dengan himpitan gelembung udara justru dalam itikad baik untuk mengisinya, hal yang berusaha kuinsyafi di tengah hari-hariku yang kian pendek. Aku tercekik.

Apa impianmu? Itu pertanyaan yang sukar kulupakan. Aku tahu apa impianku, tapi itu bukan pertanyaan yang relevan, sebab impianku yang terbesar adalah impian yang begitu sederhana sekaligus tidak mungkin direalisasikan. Impian yang ingin kusemburkan dari dada yang menyesak tetapi hanya dapat kutelan dalam denging sunyi di antara dinding-dinding kaca.

It’s between me and The Man Upstairs, and you are not God. Aku terjebak di antara uluran tangan kebebasan dan akar-akar yang menyalurkan makanan dari tanah tempatku berpijak. Separuh diriku terpenjara seperti kaki-kaki tertambat pada gravitasi, dan aku benci cuma bisa diam, tapi aku tidak punya pilihan lain.

Aku membayangkan pulang. Bukan karena ingin pulang, tetapi karena hari sudah larut dan aku lelah. Aku tidak keberatan menghela detik-detik yang kutunda dalam segenap tarikan napas, seperti halnya aku tidak keberatan melepaskannya ke udara bebas. Aku ingin menjelaskan lebih banyak - bukan untuk pembelaan, tetapi sebagai apresiasi. Sayangnya, aku tidak bisa.

Aku hanya bisa mengakhiri -lagi-lagi- dalam diam. Sebab apa yang ingin kukatakan mestinya kunyatakan di hadapan Tuhan, dan ia bukan Tuhan.

Let gone be by gone. Let the new begins.