Ilusi III
Thursday, April 17th, 2008Mungkin hidup memang lebih baik dijalani di atas hamparan ilusi. Atau mungkin selama ini aku keliru untuk mendikotomikannya dengan kenyataan. Barangkali kenyataan hidup yang paling faktual seluruhnya adalah ilusi. Aku sudah lupa pil mana yang kupilih, merah atau biru. Toh tidak akan mengubah kenyataan bahwa kita sudah terlalu lama dininabobokan realitas virtual. Hilang identitas. Luput esensi.
Apapun itu, aku lebih suka memilih ilusiku sendiri ketimbang ilusi-ilusi kapitalis. Walau aku tetap terpenjara di dalamnya, seperti deretan aksara ini lahir dalam kungkungan monitor iBook dan buaian iTunes (apa dayaku melawan kemahakuasaan Brand+Trend yang mengatur hajat hidup orang banyak); ya, meski terpenjara di dalamnya, aku berusaha tetap "terjaga" lewat sepenggal dua penggal tarikan napas kesadaran yang mulai sayup melemah.. Ninabobo… oo.. nina.. bobo..
Jalan ini bukan sepenuhnya pilihanku sendiri, walau aku sering mengatakan hidup adalah pilihan. Selalu ada suatu kekuatan yang menghantar kita pada pilihan-pilihan tertentu. Hidup tidak pernah sungguh-sungguh "pilih sendiri petualanganmu". Kita tidak pernah benar-benar bebas.
Aku tidak bisa memilih untuk mengelak dari gundah itu ketika aku menggenggam titik-titik keringat dalam telapak tangannya, menghirup deritanya dalam-dalam sementara matanya terpejam. Aku tidak bisa memilih untuk tidak merasakan nyerinya, atau mendesak rasa itu ke sudut hati lalu menghimpitnya dengan berjuta gelora fana seraya menganggapnya tidak ada. Aku tidak bisa menganggap yang ada tidak ada. Atau sebaliknya yang tidak ada, ada. Waktu itu kamu ada, tapi kamu seperti tidak ada. Kadang aku berharap kamu tidak pernah ada, setidaknya tidak dalam hidupku, dan tidak di masa itu.
Ingin aku merekam ulang memori dan mengisinya dengan cerita yang lain. Aku tahu ada yang janggal dengan kerja memoriku dan menjadikannya mirip pita rusak, tapi adakalanya aku lebih suka begitu, menanti kejutan ilusi seperti menebak angka dadu. Aku tidak suka jadi pikun, aku tidak suka dihantui ketakutan menderita kanker otak atau alzheimer, tapi seperti kukatakan, hidup adalah pilihan, dan aku lebih memilih untuk percaya pada kata temanku:
"Jangan selalu percaya apa yang dikatakan benak, beware of your own mind tricks, tapi percayalah, apa pun itu, tujuannya adalah ‘menolong’ kita."
Ya, mungkin ada baiknya sedikit gangguan memori. Supaya aku bisa mengocoknya seperti helai-helai kartu kuartet yang tercerai-berai, berkejaran dengan peristiwa seperti Joel dan Clementine menyusur petak-petak ingatan dalam Eternal Sunshine of the Spotless Mind. Aku ingin melokalisir petak yang ingin kuhapus seperti menggunting kelebat adegan, membiarkan sisanya membentuk mozaic yang cantik, seperti bening biru langit Lembang 2 pekan lalu, senyum kanak-kanak keponakanku yang lucu, kilat hitam bulu-bulu anjing rotweiller di pekarangan, atau titik-titik lampu yang tersebar dalam gelap lembah pegunungan seperti bintang-gemintang mengerling basah hamparan rumput usai tersaput kabut.
Aku tidak ingin menghapusmu sepenuhnya seperti menghapus huruf-huruf dalam pesan singkat yang kupangku bersama Akta Kematiannya. Aku tahu aku tidak pernah sungguh-sungguh tersenyum dalam candaku, karena bagiku hidup senyata tanah yang ditimbun seonggok demi seonggok di bawah gerimis siang itu. Aku sudah mengikhlaskan semua kealpaanku dalam diam menangguk kritik dan complain banyak orang. Aku tidak begitu memusingkan itu. Gemuruh ini terlalu memekakkan untuk dibagi, sekaligus terlalu lirih untuk menggoncangkan peradaban yang begitu membosankan dalam hiruk pikuknya yang kosong. Aku tahu banyak tawa sumbang diumbar sekedar mengobati hampa yang tidak lagi dibicarakan orang. Dan aku tidak sendirian. Tidak pernah sendirian. Semua orang menyimpannya, sekalipun dalam ceracau-ceracau yang tidak ada hubungannya sama sekali. Mereka menyimpannya bukan untuk disuarakan. Aku menyimpannya untuk dirayakan.