Ilusi II
Tak banyak bedanya apakah aku menjalani hidup seolah-olah ia cuma kelebatan ilusi atau sebaliknya, sesuatu yang nyata. Aku tidak bermaksud berdebat tentang apa itu realitas. Aku cuma suka merasa hidup seolah-olah cuma mimpi. Imaji-imaji fana yang tercetak dalam benak seperti guratan luka pada etsa hati. Buram helai-helai yang berhamburan setiap otakku memutar ulang kenangan dalam album memori.
Aku tidak pernah tahu seberapa dalam luka itu. Aku hanya tahu ia ada. Entah aku membesar-besarkannya atau justru berpura-pura menganggapnya tidak ada dan tak lebih dari sekedar ilusi.
Seseorang pernah berkata untuk tidak memikirkan semuanya terlalu dalam. Pernyataan yang sulit kuterima waktu itu, bahkan mungkin sampai sekarang. Sebab aku hanya mengimpikan ruang itu, tempat aku dapat merebahkan kesadaran dan mengayuh hidup seperti rakit di atas permukaan air yang tenang. Mendengar jantungmu berdetak dalam asa yang kuhela setiap hari sejak aku terjaga.
Aku tahu hidup terlalu menyenangkan sekaligus terlalu pendek untuk dibebani bergumpal-gumpal beku yang enggan dicairkan musim. Kelu yang membiru. Lupa waktu.