Archive for March, 2008

Ilusi II

Sunday, March 30th, 2008

Tak banyak bedanya apakah aku menjalani hidup seolah-olah ia cuma kelebatan ilusi atau sebaliknya, sesuatu yang nyata. Aku tidak bermaksud berdebat tentang apa itu realitas. Aku cuma suka merasa hidup seolah-olah cuma mimpi. Imaji-imaji fana yang tercetak dalam benak seperti guratan luka pada etsa hati. Buram helai-helai yang berhamburan setiap otakku memutar ulang kenangan dalam album memori.

Aku tidak pernah tahu seberapa dalam luka itu. Aku hanya tahu ia ada. Entah aku membesar-besarkannya atau justru berpura-pura menganggapnya tidak ada dan tak lebih dari sekedar ilusi.

Seseorang pernah berkata untuk tidak memikirkan semuanya terlalu dalam. Pernyataan yang sulit kuterima waktu itu, bahkan mungkin sampai sekarang. Sebab aku hanya mengimpikan ruang itu, tempat aku dapat merebahkan kesadaran dan mengayuh hidup seperti rakit di atas permukaan air yang tenang. Mendengar jantungmu berdetak dalam asa yang kuhela setiap hari sejak aku terjaga.

Aku tahu hidup terlalu menyenangkan sekaligus terlalu pendek untuk dibebani bergumpal-gumpal beku yang enggan dicairkan musim. Kelu yang membiru. Lupa waktu.

Ilusi

Sunday, March 23rd, 2008

Beberapa waktu telah berlalu dan aku berharap keadaan sudah berubah. Aku berharap banyak hal tidak lagi seperti dulu, ketika kukatakan
segalanya tak kan pernah sama lagi. Kukira satu saat aku akan berhasil mengejar semuanya
dan menjadi setara dengan yang lain. Nyatanya, aku keliru.

Aku tergoda untuk merasa menyesal. Sangat menyesal. Dua dasawarsa aku berikhtiar, tetapi klimaks domino effect dari rangkaian keputusan itu sungguh di luar harapan. Akhirnya aku harus memilih untuk hadapi saja kekalahan itu. Menerima kenyataan bahwa aku tidak lebih besar dari tantangan hidup yang aku hadapi, lalu menyimpannya dalam diam sambil menikmati bayang-bayang rerimbunan pohon yang jatuh di atas kepalaku dan menjadikan diriku sama hitam dengan tanah tempatku berpijak.

Kadang aku lebih suka melupakan semuanya, atau menganggap tahun-tahun
berlalu seolah tanpa aku di dalamnya: dimensi yang tidak pernah kumiliki, dan
tidak pernah menjadikan aku miliknya.

Melupakan semuanya dan mulai baru. Aku suka membayangkan bau kertas buku tulis yang baru dibeli. Menyentuh permukaannya yang licin, selicin awal hari yang belum tergores
peristiwa, atau awal tahun yang hari-harinya belum dicatatkan dalam agenda. Sesuatu menggelora di hati setiap aku membayangkan melakoni hidup layaknya lembaran baru. Aku seperti penderita OCD yang tergila-gila pada sistematika dan tak sanggup menolak dorongan untuk memulai semuanya dari awal, berharap semua berjalan dan berakhir sempurna, hanya untuk mendapati harapan itu pupus seketika, sekedar menyadari terlalu banyak rentang halaman yang harus dihapus untuk menjadikan hidup ini lembaran baru. Dua dasawarsa bukan waktu yang singkat untuk dihapus dari lembar kehidupan, walau adakalanya di tengah kegilaan ini, aku tidak keberatan untuk kembali ke usia 13-ku yang gamang.

Hidup masih meluncur bebas di usiaku yang ke-33. Dalam ketergantunganku akan keresahan yang tak habis-habis tentang ketidakpastian hidup. Dalam rinduku untuk berpijak di atas seutas goyah yang membentangkan ilusi kenyamanan dalam rasa tidak aman yang berkesinambungan.

Bagaimanapun, aku tahu kini hidup jauh lebih bisa dinikmati. Aku membebaskan diri dari belenggu hasrat
untuk diterima atau dihargai untuk sesuatu yang tidak pernah kumiliki. Pada akhirnya, aku harus menentukan jalanku sendiri dengan yang aku miliki, bukan apa yang tidak kumiliki.